Profil
· Profil Balai
· Sasaran Pelayanan
· Visi dan Misi
· Tugas Pokok Dan Fungsi
· Pendistribusian Tugas

Menu Utama
· Depan
· Akun Anda
· Arsip Berita
· Kirim Berita
· Kontak
· Search
· Top 10
· Topics

Login
Nama Login

Password

Daftar
Lupa Password.

ATENSI: Mix Farming Balai Anak “Paramita” Mataram
Dikirim oleh paramita pada Senin, 30 November 2020 (3 kali dibaca)
Berita

Lombok Barat (29 November 2020) – Setiap hari Minggu anak-anak Balai Anak “Paramita” di Mataram melakukan kegiatan berkebun (Mix Farming), sebagai bagian dari terapi biopsikososial untuk anak yang dapat melatih kesabaran serta kepekaan terhadap kondisi sekitar. PM diajarkan untuk mengenal metode bercocok tanam secara terpadu. Berbagai macam tanaman yang diperkenalkan kepada PM antara lain: Pepaya, Cabai, Terong, Singkong, Budidaya Eceng Gondok dan ikan nila dalam 1 (satu) kolam.

 

 

Kepala Balai Anak "Paramita" I Ketut Supena menuturkan, “Anak-anak harus diberikan bekal tidak hanya bekal secara formal dalam kelas, namun berkebun seperti ini juga dapat digunakan sebagai sarana perubahan perilaku anak. Anak kita ajarkan untuk memanfaatkan kekayaan alam yang ada di lingkungan sekitar kita, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk bisa mencukup kebutuhan pangan kesehariannya. Hal ini tentunya dapat jadi ilmu tambahan dan bekal bagi mereka kelak ketika pasca menjalani asistensi rehabilitasi sosial berbasis residensial dalam balai ini.” Selain itu,  dalam masa pandemi COVID-19 ini,  anak-anak harus banyak bergerak agar meningkat imun tubuh mereka dan terhindar dari Virus tersebut.

 

Keseruan dan antuasiasme PM mengikuti kegiatan Mix Farming yang mereka ikuti ditunjukkan dari sorot mata dan giatnya mereka mencangkul dan mengolah tanaman. Mereka tak segan-segan bertanya apabila ada hal yang kurang mereka pahami dalam bercocok tanam.

 

“R” salah satunya, PM Putra berusia 14 tahun yang menanyakan fungsi dari tanaman pepaya selain diambil buahnya apakah dapat dimanfaatkan bagian lain dari dari pohon tersebut. Ia mendapatkan pehamanan bahwa pohon pepaya tidak hanya sekedar dapat diambil buahnya saja, melainkan biji dari buah pepaya dapat juga dimanfaatkan untuk menyehatkan saluran pencernaan, dan menjaga kesehatan ginjal. Selain biji buah, kulit buah juga dapat digunakan untuk menyembuhkan jerawat dan menghaluskan telapak kaki yang pecah-pecah.

 

Daun pepaya jua bermanfaat sebagai penangkal infeksi virus, pereda demam berdarah dan anti malaria. Cara mengolah daun pepaya ini pun cukup mudah, daun pepaya dapat dijadikan sebagai sayur yang bercita rasa yang nikmat. Atas penjalasan yang didapat oleh “R” tersebut, ia semakin paham pentingnya bercocok tanam.

 

 

Selain pepaya, terdapat pula cabai, terong, dan singkong yang juga mereka pelajari dalam kegiatan hari ini. terakhir mereka juga memperkaya pengetahuan mereka dengan budidaya terpadu antara tanaman eceng gondok yang selama ini mereka gunakan sebagai bahan baku pembuatan Saego (Sandal Eceng Gondok) yang menjadi salah satu Masterpiece dari Balai Anak “Paramita” saat ini ternyata dapat dibudidayakan secara bersama-sama dengan ikan nila.

 

Dengan Mix Farming antara Eceng Gondok dengan Ikan nila tersebut maka dapat memberikan efek simbiosis komensalisme bagi ikan. Dimana, akar eceng gondok dapat menyerap kotoran di dalam kolam ikan dan menjaga suhu air pada kolam ikan. Selain itu, tanaman eceng gondok juga dapat melindungi ikan dari panas matahari.

PM berharap, kegiatan seperti ini rutin dilakukan di setiap hari libur, sehingga mereka tidak duduk merenung dengan kasus dan masalah yang saat ini sedang mereka hadapi. Mereka bersyukur diberikan kesempatan untuk berada di Balai Anak “Paramita” di Mataram karena banyak pelajaran yang mereka petik dari proses asistensi rehabilitasi sosial selama berada di dalam balai. “saya akan lakukan kebiasaan baik yang ada di balai ini setelah keluarnya saya dari balai ini.” Ungkap Penerima Manfaat “F” yang mengikuti kegiatan hari ini.

 

Penulis: Den Ardani AS.



(selengkapnya... | ATENSI | Nilai: 0)

ATENSI: Prakondisi Reunifikasi PM 'LZ' Gandeng Dinas Kesehatan Lombok Barat
Dikirim oleh paramita pada Senin, 30 November 2020 (8 kali dibaca)
Berita

LOMBOK BARAT (27 November 2020) - Balai Anak "Paramita" di Mataram sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial melakukan prakondisi pemulangan Penerima Manfaat (PM) "LZ" ke Kabupaten Seruyan Provinsi Kalimantan Tengah bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat.

Wujud kerjasama yang dilakukan adalah dengan mengadakan pemeriksaan bebas COVID-19 gratis bagi PM yang bersangkutan. "LZ" merupakan Anak Terlantar yang menjalani Layanan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) berbasis residensial di Balai Anak "Paramita" Mataram selama lebih dari 1 (satu) bulan atas permasalahan sosial anak yang dihadapinya.

"LZ" merupakan anak terlantar yang berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah dan juga merupakan Anak Korban Perdagangan Orang. Secara langsung, "LZ" mengaku kepada Pekerja Sosial bahwa ia telah menikah siri dengan seorang pemuda asal Lombok yang kenal pada saat pemuda tersebut berada di Kalimantan.

Setelah menjalani terapi psikologis oleh psikolog dan terapi psikososial oleh Pekerja Sosial dan mempertimbangkan asas kepentingan terbaik bagi anak serta pengasuhan terbaik bagi anak berada pada keluarga, maka dalam waktu dekat akan dilakukan terminasi dan reunfikasi PM kepada keluarganya.

Guna mendukung pemulangan anak kepada keluarganya di tengah situasi Pandemi seperti saat ini, terdapat persyaratan mutlak yang harus dipenuhi yakni surat bebas COVID-19 yang dikeluarkan oleh instansi kesehatan milik pemerintah. Oleh karenanya, Balai Anak "Paramita" bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat untuk menerbitkan surat Bebas COVID-19 bebas biaya. Hubungan kerjasama ini bermula dari kegiatan rapat koordinasi regional Program Balai Anak "Paramita" di Mataram yang diselenggarakan pada awal bulan Oktober 2020 lalu, yang mana salah satu pesertanya merupakan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dalam Rakor tersebut, pihak kesehatan menyanggupi untuk memberikan Rapid Test gratis bagi anak-anak yang sedang atau akan menjalani ATENSI di dalam balai. Retno Yuli Wijayanti selaku Pekerja Sosial di Balai "Paramita" mengatakan, "kami dari pihak balai sangat terbantu dengan adanya hubungan kerjasama baik dengan Dinas Kesehatan, hal ini dapat dijadikan sebagai upaya preventif bagi anak-anak dalam balai agar senantiasa terhindar dari ganasnya virus COVID-19 yang sampai saat ini masih menunjukkan pertambahan jumlah penderitanya di Indonesia."

Oleh karenanya, pagi hari ini Pekerja Sosial Balai "Paramita" mendampingi "LZ" untuk melakukan rapid test  di Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat. "Petugas Dinas Kesehatan tersebut menerima kami dengan sangat baik dan ramah. Penanganan yang diberikan cepat dan petunjuk yang diberikan juga jelas." tandas Retno saat pendampingan anak.

Hasil dari Rapid Test  yang dilakukan oleh "LZ" keluar 15 menit kemudian dan surat yang telah ditandatangani oleh Kepala Laboratorium tersebut dapat digunakan sebagai syarat pemulangan anak kepada keluarga melalui jalur udara yang rencananya akan diantarkan pada pekan depan.

 

Penulis: Den Ardani AS.

 

 

 



(selengkapnya... | ATENSI | Nilai: 0)

ATENSI: Lakukan Reintegrasi dan Reunifikasi, Kemensos RI Kembalikan E Pada Keluarga
Dikirim oleh paramita pada Rabu, 25 November 2020 (5 kali dibaca)
Berita

Lombok Timur (25  November 2020) - Balai Anak "Paramita" di Mataram melakukan reunfikasi dan reintegrasi Penerima Manfaat (PM) Putri kepada masyarakat. Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WITA bertempat di kediaman Ketua RT yang sekaligus paman PM dan dihadiri oleh keluarga besar PM. Kegiatan yang difasilitasi oleh Mira Nitakusminar selaku Pekerja Sosial dari Balai Anak "Paramita" di Mataram berlangsung dengan lancar tanpa adanya kendala.

 

"E" merupakan seorang anak yang menjadi PM di Balai Anak "Paramita" di Mataram dengan klaster permasalahan anak korban kejahatan seksual yang dilakukan oleh bapak tiri, yang mana akibat dari kejadian tersebut keluarganya mengalami permasalahan sosial lainnya, dimana ibu kandung dan 4 orang anaknya termasuk PM diusir dari kampung halamannya, sehingga mereka harus tinggal mengontrak sebuah rumah yang jauh dari desanya. Sehari-hari, ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi buruh tembakau tetapi semenjak diusir dari desanya tidak ada lagi pekerjaan yang dapat dilakukan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka mengandalkan pemberian dari masyarakat setempat dan anak pertamanya yang sudah menikah.

Pekerja sosial melakukan persuasi kepada tokoh dan perwakilan masyarakat setempat agar anak dan bayinya dapat diterima kembali di kampungnya. Petugas melakukan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya tumbuhkembang anak di dalam keluarga. Terlebih "E" sangat ingin merawat bayinya dan didukung oleh ibu dan kakaknya.

Melalui rembuk warga bersama pekerja sosial dan Kepala Balai akhirnya diputuskan bahwa anak dan bayinya diterima kembali di kampungnya. "Kita terima bayi ini, namanya anak kan tidak punya salah, bapaknyalah yang salah" tandas kepala dusun setempat yang juga mengawal pertemuan tersebut.

Sebelum dilakukan reunifikasi, pekerja sosial memastikan kembali kesiapan keluarga terkait kepulangan anak dan bayinya. Keluarga pun sudah lama menantikan kepulangan anak dan bayinya. Keluarga besarnya siap memberikan bantuan dan membimbing penerima manfaat.

Kepulangan PM dan bayinya disambut gembira oleh keluarganya. Banyak anak-anak kecil yang memanggil-manggil nama PM dengan gembira saat melihat PM diantarkan pulang. Keluarga besarnya berdatangan menghampiri PM.

Mira kemudian mengembalikan PM kepada keluarganya agar dapat dibantu dan dibimbing dalam pengasuhan bayinya, ia mengatakan "selamat berkumpul kembali dengan keluarga, jaga baik-baik anaknya. Jangan sungkan untuk meminta bantuan keluarga apabila ada kesulitan. Mereka siap untuk membantu seperti apa yang telah dikatakan oleh keluargamu tadi ya." Mira juga berpesan kepada “E” agar ia tidak lupa untuk mengikutsertakan bayinya dalam pemeriksaan di posyandu agar tumbuh kembangnya dapat terkontrol.

Pihak keluarga mengungkapkan "kami siap membimbing anak ini supaya lebih baik lagi, kalau dia perlu makan atau apa tinggal datang saja ke rumah". Istri pak Rohman pun mengatakan "jangan diam-diam saja dirumah, main-main saja kesini, namanya tinggal di gubuk pasti ada saja yang membicarakan tapi biarkan saja mereka, yang penting urus saja anakmu baik-baik" ungkapnya di akhir sesi pertemuan pada sore hari ini.

 

Penulis: Den Ardani AS.



(selengkapnya... | ATENSI | Nilai: 0)

ATENSI: Art Therapy bagi Anak Memerlukan Perlindungan Khusus di Balai Anak “Paramita”
Dikirim oleh paramita pada Rabu, 25 November 2020 (8 kali dibaca)
Berita

Lombok Barat (11 November 2020) - Art Therapy diterapkan di Balai Anak "Paramita" di Mataram. Tujuannya agar potensi seni anak tumbuh dan berkembang serta tersalurkan. Art Therapy ini juga merangsang pola pikir anak untuk memiliki jiwa kewirausahaan.

 

Art Therapy yang diberikan kepada anak-anak di Balai Anak "Paramita" merupakan salah satu terapi psikososial untuk memadukan kemampuan psikomotorik dan kognisi anak sehingga lahir karya seni yang diharapkan mampu menjadi bekal usaha produktif yang bernilai ekonomis. Selain itu karya seni juga dapat dijadikan sebagai media untuk perubahan aspek psiko dan sosial bahkan mental anak.

Art Therapy di Paramita menjadi rangkaian  inovasi  "Lo Apakan Mira",  yaitu Kelola Sampah Perkantoran Balai Anak "Paramita" guna mendaur ulang barang bekas tidak terpakai, seperti kertas, kardus-kardus bekas,  koran dan pelepah pisang untuk dijadikan barang seperti kotak tisu, kotak pulpen/pensil, bingkai foto, dan lain-lain yang kemudian dilakukan finishing dengan menggunakan sentuhan seni berupa motif-motif lukisan berwarna yang menambah daya tarik barang recycle tersebut.

I Ketut Supena selaku Kepala Balai Anak "Paramita" mengatakan, " Art Therapy  sangat cocok diberikan kepada Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) Anak karena mereka masih dalam fase perkembangan,  sehingga penting memberikan kegiatan-kegiatan positif seperti pengembangan potensi seni dan merangsang jiwa kewirausahaan mereka,  tentunya tujuan akhir dari Art Therapy ini bisa memberikan kemandirian secara ekonomi bagi PPKS Anak di Balai Anak Paramita Mataram.”

 

Penulis: Den Ardani AS.



(selengkapnya... | ATENSI | Nilai: 0)

ATENSI: Home Visit Keluarga PM Guna Penguatan Kapabilitas Keluarga
Dikirim oleh paramita pada Selasa, 24 November 2020 (13 kali dibaca)
Berita

 

Lombok Utara (23 November 2020) - Balai Anak "Paramita" di Mataram melaksanakan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang dilakukan melalui pendekatan residensial dengan mengiplementasikan tahapan Intake dan Engagement dalam proses Asesmen Awal melalui kegiatan Home Visit (Kunjungan Rumah) terhadap Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH).

 

ABH merupakan salah satu sasaran dari 15 klaster Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK)  sesuai dengan Pasal 59 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. ABH dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak adalah anak yang berkonfklik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana.

 “ES” merupakan kategori anak berhadapan dengan hukum dengan kasus pencurian, ia telah mendapatkan penetapan Diversi dan ditempatkan di Balai Anak “Paramita” di Mataram untuk mendapatkan layanan rehabilitasi sosial. Kesepakatan Diversi dilakukan melalui musyawarah dengan melibatkan Anak dan orang tua/walinya, korban dan orang tua/ walinya, pembimbing kemasyarakatan, dan Pekerja Sosial Profesional berdasarkan pendekatan Keadilan Restoratif.

Pelayanan ABH dilaksanakan melalui program ATENSI yang merupakan layanan rehabilitasi sosial dilakukan dengan pendekatan berbasis residensial, melalui kegiatan pemenuhan hidup layak, pengasuhan anak, dukungan keluarga, terapi fisik, terapi psikososial, terapi mental spiritual, pelatihan vokasional, pembinaan kewirausahaan, bantuan dan asistensi sosial serta dukungan aksesibilitas.

 

Rehabilitasi Sosial ABH dilaksanakan di Balai Anak “Paramita” di Mataram dengan tahapan:

 

1. Akses

2. Intake dan Engagement

3. Asesmen Kompehensif

4. Perencanaan Atensi

5. Implementasi

6. Monitoring dan Evaluasi

7.Terminasi

Tujuan Pelayanan rehabilitasi sosial ABH adalah untuk meningkatkan kembali keberfungsian sosial anak sesuai perannya sebagai individu yang menjadi bagian dari keluarga serta masyarakat.

Mengacu pada Bisnis Proses program ATENSI, tahapan Intake dan Engagement dalam proses Asesmen Awal melalui kegiatan Home Visit, untuk mengumpulkan, menganalisis, dan merumuskan masalah, kebutuhan, potensi, dan sumber yang dapat dimanfaatkan dalam pelayanan Rehabilitasi Sosial serta melakukan penilaian terhadap penerima manfaat kenapa melakukan pelanggaran hukum dengan tujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelayanannya.

Home Visit dilakukan oleh Pekerja Sosial dengan tujuan untuk mengenal lingkungan hidup penerima manfaat sehari-hari, khususnya bila informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh melalui angket atau wawancara. Kunjungan rumah tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi tentang penerima manfaat serta keadaanya dirumah dan tempat tinggalnya apabila tidak diperoleh melalui asesmen yang dilakukan terhadap penerima manfaat di Balai. Selain itu, Home Visit dilakukan guna memperoleh berbagai keterangan atau data yang diperlukan dalam pemahaman lingkungan dan pemahaman penerima manfaat. Selanjutnya untuk pembahasan dan pemecahan permasalahan penerima manfaat.

 

I Ketut Supena selaku Kepala Balai mengatakan “tujuan dari Home Visit, adalah untuk melengkapi data/ informasi tentang penerima manfaat melalui wawancara dengan orang tua, dan hasil observasi suasana di rumah. Selain itu Home Visit dilakukan untuk memberikan penjelasan tentang keadaan penerima manfaat kepada orang tua dan membangun kerja sama antara Balai dan rumah serta mengembangkan tingkat kepedulian orang tua terhadap masalah penerima manfaat. Kegiatan yang melibatkan keluarga dilakukan untuk mempererat jalinan support system dari pihak keluarga dan Balai.”

 

 

Memahami permasalahan yang dihadapi penerima manfaat yang berhubungan dengan tempat tinggal penerima manfaat dan anggota keluarganya akan memberikan kemudahan  dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Pekerja Sosial harus  memahami keadaan, lingkungan  penerima manfaat serta masalah yang dihadapi penerima manfaat karena dengan memahaminya dapat membantu Pekerja sosial dalam menangani masalah tersebut.

 

Penanganan masalah penerima manfaat dapat memberikan dorongan  dan semangat kepada penerima manfaat  dalam menjalani kehidupannya, sehingga penerima manfaat dapat merencanakan apa yang harus ia lakukan demi masa depan kehidupannya. Dengan didapatkannya data yang akurat, upaya penanganan masalah penerima manfaat akan dapat lebih intensif.

 

 

Penulis: Budi Surya HP.

 

Editor: Den Ardani AS



(selengkapnya... | ATENSI | Nilai: 5)

ATENSI: Pengasuhan di Dalam Keluarga Akan Lebih Baik Bagi Tumbuh Kembang Anak
Dikirim oleh paramita pada Jumat, 20 November 2020 (10 kali dibaca)
Berita

Lombok Barat (20 November 2020), Kementerian Sosial RI melalui Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) "Paramita" di Mataram melakukan reunifikasi penerima manfaat putri pasca menjalani Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI)

Penerima manfaat merupakan korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh teman yang baru dikenalnya melalui telepon.

Awalnya, Keluarga penerima manfaat malu terhadap masyarakat akan kehamilan anaknya dan berharap bisa dilakukan layanan dan perlindungan di Balai.

Penerima manfaat dan keluarganya awalnya tidak menginginkan bayi yang dikandungnya, bahkan selama berada di dalam balai penerima manfaat diketahui pernah menyakiti bayi dalam kandungannya dengan cara memukul perutnya.

Pekerja sosial terus memberikan pendampingan terhadap penerima manfaat, melakukan konseling, mediasi keluarga serta terapi psikososial kepada penerima manfaat sehingga akhirnya penerima manfaat memutuskan akan melakukan pengasuhan kepada bayinya. Hal ini juga didukung oleh kedua orangtuanya yang menyatakan siap untuk memberikan pengasuhan kepada bayinya. Keluarga yakin bawa bayi ini akan membawa rejeki bagi keluarganya.

 

Penerima manfaat dikembalikan kepada keluarga oleh Kepala Balai didampingi oleh Kepala Seksi Layanan Rehabilitasi Sosial, Kepala Seksi Asesmen dan Advokasi Sosial serta Pekerja Sosial Fungsional. Hal ini didasarkan pada keputusan tim Case Conference bahwa dari hasil intervensi pekerja sosial dan psikolog menyatakan progres yang baik sehingga penerima manfaat sudah dinyatakan selesai mendapatkan pelayanan di Balai dan perlu segera direunifikasi kepada keluarga.

Sebelum dilakukan reunifikasi, pekerja sosial juga melakukan home visit untuk memastikan kesiapan keluarga, dukungan masyarakat dan tokoh masyarakat setempat terkait dengan rencana pengasuhan bayi penerima manfaat.

I Ketut Supena sekalu Kepala Balai berpesan kepada Penerima Manfaat, "Lanjutkan sekolahnya, jaga bayinya dengan baik, jangan lupa memberikan ASI eksklusif kepada bayi guna meningkatkan kekebalan tubuh bagi sang bayi. Pengasuhan anak di dalam keluarga merupakan pilihan yang terbaik bagi anak."

Selanjutnya, penerima manfaat diantarkan oleh pekerja sosial ke tempat tinggalnya. Setibanya di rumah, penerima manfaat disambut baik oleh ketua RT dan beberapa masyarakat setempat.

Masyarakat menyambut kedatangan penerima manfaat dan bayinya. Mereka antusias menerima kedatangan penerima manfaat dan bayinya. Hal tersebut ditunjukkan dari respon baik dan sikap masyarakat yang memberikan perhatian kepada penerima manfaat dengan mengatakan, "Jangan gendong yang berat-berat dulu kalau baru melahirkan."

Perhatian lain juga diberikan oleh kader posyandu yang mengatakan bahwa, "Saya akan turut memantau perkembangan bayi penerima manfaat dengan mengikutsertakan bayi penerima manfaat dalam kegiatan posyandu yang diselenggarakan secara rutin setiap bulannya."

Satuan Bakti Pekerja Sosial menuturkan, "Nanti akan dibantu proses pembuatan akta kelahiran bayinya sehingga anak penerima manfaat memperoleh identitas kependudukan."

  

 

Orangtua penerima manfaat menyampaikan ucapan terimakasih kepada Balai Anak Paramita yang telah menjaga anak kami dengan baik, memberikan perlindungan dan pelayanan dengan baik, "Mudah-mudahan paramita diberi berkah, diberi umur dan panjang dan rizki yang banyak bagi petugasnya." Tandasnya.

 

Penerima manfaat juga menyampaikan "Terimakasih telah menjaga saya disana, telah mengurus saya selama hamil sampai melahirkan. Bayi ini anugrah terindah dari Allah jadi saya harus menjaganya. Saya akan melanjutkan sekolahnya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi."

 

Penulis: Den Ardani AS.



(selengkapnya... | ATENSI | Nilai: 5)

Pengakhiran Masa Praktikum II Mahasiswa Poltekessos Bandung
Dikirim oleh paramita pada Selasa, 24 November 2020 (9 kali dibaca)
Berita

Lombok Barat (23 November 2020), Kepala Balai Anak Paramita Mataram, I Ketut Supena secara langsung melakukan pelepasan kepada 4 orang mahasiswa yang melaksanakan praktikum di Balai anak Paramita Mataram dalam rangka intervensi terhadap penerima manfaat yang berada dalam Balai selama masa rehabilitasi sosial yang berbasis residensial.

 

Pada kesempatan tersebut kepala Balai anak Paramita menyampaikan sambutan kepada mahasiswa, "saya memohon maaf, kiranya selama melakukan praktikum di dalam Balai Anak Paramita, terdapat hal-hal yang kurang maksimal yang kami berikan kepada para mahasiswa. Kami telah berusaha maksimal untuk selalu dapat mendukung mahasiswa dalam melakukan praktik kepada anak-anak Penerima Manfaat di dalam Balai kami."

"Saya harapkan pengalaman yang telah adik-adik mahasiswa dapatkan selama berpraktik di Balai anak Paramita Mataram dapat dijadikan sebagai bekal dan acuan dalam menjalani kehidupan pasca studi di perguruan tinggi. Kami berharap adik-adik sekalian juga dapat mengamalkan ilmu-ilmu pekerjaan sosial pada saat bekerja nantinya terlebih menjadi seorang aparatur sipil negara" tambahnya.

Supena menyampaikan bahwa tantangan dalam berpraktik terkait ilmu pekerjaan sosial dengan anak sangat besar dibandingkan dengan yang lainnya, namun dengan adanya kesempatan berpraktik di Balai anak Paramita dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dari masing-masing mahasiswa dan memadukan antara teori-teori yang telah mereka pelajari di bangku kuliah disandingkan dengan kehidupan yang nyata sesuai dengan realita.

 

Pada kesempatan itu juga, mahasiswa Poltekkes Bandung menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Balai Anak Paramita yang telah menerima mereka untuk menimba ilmu dan berpraktik di dalam Balai. Mahasiswa praktikum II Poltekesos Bandung juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama melaksanakan proses praktikum terdapat tutur kata ataupun perbuatan yang menyinggung perasaan pegawai ataupun pimpinan Balai Anak Paramita. Selanjutnya seluruh mahasiswa menyerahkan plakat dari poltekesos Bandung kepada kepala Balai sebagai ucapan terima kasih atas diterimanya mereka berpraktik selama 2,5 bulan.

 

Penulis: Den Ardani AS.



(selengkapnya... | Nilai: 0)

ZI WBK/WBBM: Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) bagi Anak KTD di Balai Anak 'Paramita
Dikirim oleh paramita pada Kamis, 05 November 2020 (24 kali dibaca)
Berita

Lombok Barat (05 November 2020) - Balai Anak "Paramita" di Mataram mewujudkan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), khususnya bagi Anak Korban Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) yang merupakan salah satu sasaran garapan dari 15 klaster anak yang memerlukan perlindungan khusus sesuai dengan Pasal 59 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

 
Anak KTD memiliki kondisi psikologis yang kurang stabil, anxiety (cemas), stress, dan self harm (cenderung menyakiti diri sendiri), oleh karenanya pegawai Balai Anak "Paramita", terutama fungsional pekerja sosial, psikolog, dan perawat tak henti-hentinya memberikan terapi yang dapat mengembalikan keberfungsian sosial dari Anak KTD.
 
Salah satu yang dilakukan pada hari ini antara lain: Terapi Relaksasi, Senam Kehamilan, dan Hypnobirthing. Ketiga terapi tersebut membawa unsur alamiah atau natural sehingga banyak memanfaatkan ruang-ruang hijau Balai Anak "Paramita" dan membuat anak menyatu dengan alam.
 
Terapi relaksasi dilakukan oleh psikolog dengan media aromaterapi dan dibantu dengan media audio berupa lantunan lagu yang memberikan efek rileks bagi anak sehingga meredam perasaan yang kurang nyaman atas kejadian yang menimpanya.
 
Senam kehamilan merupakan salah satu terapi yang diberikan oleh perawat Balai Anak "Paramita" kepada Anak KTD guna mempersiapkan diri penerima manfaat untuk mempermudah mereka saat menjalani proses persalinan. Senam kehamilan dilakukan rutin setiap hari didahului dengan jalan kaki oleh masing-masing anak untuk melemaskan otot kaki dan pinggul.
 
Hypnobirthing adalah metode yang menggunakan self-hypnosis (hipnotis diri sendiri) dan teknik relaksasi untuk membantu calon ibu merasa siap serta mengurangi persepsi akan ketakutan, kecemasan atau tegang, dan rasa sakit saat melahirkan, instruktur dari terapi hypnobirthing ini adalah psikolog.
 
I Ketut Supena, selaku kepala balai mengatakan "selain terapi relaksasi, hypnobirthing, dan senam kehamilan, kami juga memiliki satu terapi unggulan untuk anak-anak KTD yakni Yoga Sukhasana yakni salah satu teknik dalam yoga. Sukhasana berasal dari kata Sanskerta Sukham yang berarti mudah, kesenangan, kenyamanan, dan kesenangan. Orang-orang dari segala usia dapat melakukan yoga ini. Manfaat Yoga Sukhasana salah satunya adalah untuk mengurangi rasa cemas, gelisah, emosional dan depresi", tuturnya.


(selengkapnya... | 2750 byte lagi | ZI WBK/WBBM | Nilai: 5)

Kementerian PAN RB Lakukan Desk Evaluasi Pembangunan ZI Menuju WBK
Dikirim oleh paramita pada Kamis, 05 November 2020 (31 kali dibaca)
Zona Integritas

Lombok Barat (03 November 2020) - Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) "Paramita" di Mataram yang merupakan Unit Pelaksana Teknis milik Kementerian Sosial RI, I Ketut Supena, didampingi Tim Zona Integritas (ZI) melakukan pemaparan secara virtual melalui Zoom Meeting terkait Pelaksanaan Pembangunan ZI di lingkungan Balai Anak "Paramita" di Mataram.

 
Pemaparan dimulai pada pukul 10.45 WITA. I Ketut Supena selaku Kepala Balai memaparkan terkait dengan sistem pembangunan zona integritas di wilayah balai selama kurang lebih 30 menit. 
 
Supena menjelaskan bahwa bukti dukung Balai Anak Paramita berkomitmen melaksanakan Pembangunan Zona Integritas adalah dengan diterimanya penghargaan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara sebagai satuan kerja yang memiliki kinerja terbaik.
 
             
 
Selain hal tersebut, Supena menambahkan "Pada tahun 2020, Balai Anak Paramita dapat mempertahankan predikat ISO 9001:2015 yang berarti bahwa Balai Anak Paramita mampu menjalankan Sistem Manajemen Mutu (SMM) yang diakui oleh Lembaga Internasional. Hal tersebut menjadi cambuk bagi kami untuk selalu memberikan pelayanan yang prima bagi masyarakat."
 
Disamping itu, Balai Anak Paramita juga mendapatkan nilai 83,64 (Sangat Baik) untuk survei kepuasan masyarakat yang mencakup sembilan unsur penilaian, antara lain: persyaratan, Standar Operasional Prosedur, Waktu, Biaya, Ketepatan Program, Kemampuan SDM, Perilaku SDM, Pengaduan, dan Kenyamanan Sarana Prasarana.
 
Pada Indeksi Persepsi Korupsi, Balai Anak Paramita mendapatkan nilai 85,73 (Sangat Baik) dengan sembilan unsur penilaian, diantaranya: Prosedur Bebas KKN, Perilaku SDM, Pungutan, Produk, dan Sistem Pengaduan.
 
Dalan paparannya juga, Supena mengatakan "Balai Anak Paramita telah berbasis teknologi informasi dalam pengelolaan dan pelayanan terhadap masyarakat." Selain pemaparan materi yang dikuatkan dengan bukti-bukti pendukung, tim evaluator Kemenpan RB memberikan pertanyaan guna pelaksanaan evaluasi terkait dengan komitmen seluruh pegawai dalam membangun ZI di wilayah lingkungan balai.
 
Selama proses evaluasi tersebut, terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki dari Balai Anak Paramita, salah satunya penekanan terhadap 1 (satu) program unggulan yang menjadi tujuan sasaran pelayanan balai. Di akhir sesi, Supena kembali menegaskan bahwa Balai Anak Paramita berkomitmen untuk menjadi Lembaga yang menuju Wilayah Bebas Korupsi.
 
Selain itu juga, evaluasi yang diberikan oleh pihak evaluator dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Sipil Negara Reformasi dan Birokrasi juga mengarah pada ketersediaan informasi yang dimuat melalui webiste dengan tampilan yang menarik dan memuat ragam informasi yang dapat diakses, diterima, dan dipahami oleh masyarakat luas.
 
Penulis: Den Ardani AS.


(selengkapnya... | Nilai: 5)

Penjangkuan Kasus Pernikahan Anak Usia Dini Dua Mempelai Wanita
Dikirim oleh paramita pada Selasa, 03 November 2020 (19 kali dibaca)

 

LOMBOK BARAT (16 Oktober 2020) - Tim Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Paramita di Mataram bersama Sakti Peksos melakukan penjangkauan terhadap kasus pernikahan anak usia dini  M (16), Y (16) dengan mempelai pria an. R (20) di daerah sekotong Kab. Lombok Barat, NTB.

 

Tim BRSAMPK Paramita di Mataram yang di dampingi oleh Babinsa, Babinkamtibmas dan Aparat Desa, bertemu dengan orang tua R menanyakan informasi apakah benar putranya melakukan pernikahan dengan dua mempelai wanita sekaligus.  

 

Setelah diperoleh kebenaran informasi tersebut Tim Balai Anak Paramita menyayangkan hal ini terjadi mengingat bahwa mempelai masih berstatus pelajar, Tim berharap orangtua mempelai laki-laki dapat memberikan masukan untuk mempertimbangkan keinginannya disaat putranya meminta ijin untuk melakukan pernikahan tersebut. Sebaiknya orangtua menunda dulu keinginan anaknya dengan pemikiran bahwa usia masih sangat muda dan belum memiliki pekerjaaan sehingga akan menjadi beban bagi keluarga kedepannya, apalagi statusnya masih pelajar.

 

Sebenarnya kejadian ini sudah diketahui oleh pemerintah desa dan dusun setempat, namun pemerintah desa tidak dapat melakukan tindakan apapun karena pernikahan sudah terlanjut terjadi.

 

Pada kesempatan ini pula Tim Paramita melakukan temu bahas bersama pemerintah desa, Babinsa dan Babinkantibmas terkait permasalahan ini. Tim Paramita mengharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi dan mendorong agar pemerintah desa dibantu aparat Babinsa dan Babinkantibmas melakukan gerakan pencegahan pernikahan  usia dini. Selain itu, tim juga mengharap kepada Dinas Sosial Lombok Barat melalui Sakti Peksos untuk mendukung kegiatan pencegahan Pernikahan dini.



(selengkapnya... | Nilai: 0)

Balai Anak 'Paramita' di Mataram Gelar Rapat Koordinasi Regional, Sosialisasikan
Dikirim oleh paramita pada Selasa, 03 November 2020 (21 kali dibaca)
LOMBOK BARAT (1 Oktober 2020) - Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Harry Hikmat memberikan arahan pada kegiatan Rapat Koordinasi Regional Program Asistensi Rehabilitasi Sosial Anak BRSAMPK Paramita Mataram secara virtual.

 

“Kementerian Sosial melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial perlu mengupdate perkembangan situasi Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus (AMPK) serta memastikan respon perlindungan kepada AMPK sesuai dengan arah kebijakan dan strategi yang terus dikembangkan oleh Kemensos,” kata Harry Hikmat.

 

Forum ini merupakan salah satu media sosialisasi atas berbagai penyesuaian kebijakan, strategi dan program khususnya melalui Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), yang akan sangat bertumpu pada kinerja Balai Rehsos Anak. Balai mempunyai mandat yang sangat kuat untuk melaksanakan ATENSI dengan dukungan penuh dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak (RSA).

 

Harry menyampaikan berdasarkan data (DTKS) ada sekitar 27,4 juta anak yang membutuhkan perhatian khusus dari total 75,04 juta jiwa. Kemensos telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan data anak yang membutuhkan pelayanan sosial bisa tercatat dan teregistrasi.

 

Direktorat RSA telah melakukan komunikasi, koordinasi,sinkronisasi serta bersinergi untuk memastikan data anak melalui Lembaga Kesejahteran Sosial Anak (LKSA) terdaftar. Melalui sistem Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dengan tambahan modul DTKS-PPKS Anak, sampai saat ini telah teregistrasi hampir 5 ribu LKSA dan data anak yang masuk sekitar 183 ribu.

 

Berdasarkan jenis masalah, teridentifikasi sejumlah kategori yaitu Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK), Anak memerlukan Pengembangan Fungsi Sosial, Anak Jalanan, Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), Anak Balita (dari keluarga miskin, dibuang, tidak terdokumentasi, membutuhkan keluarga pengganti) dan Anak terlantar.

 

“Data Anak ini agar diupdate khususnya di wilayah-wilayah jangkauan Balai Paramita. Segera  pastikan LKSA di wilayah  jangkauan Balai untuk meregistrasi diri, self registration, self reporting, self entry  kepada sistem DTKS-PPKSA  yang terintegrasi di Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Pusdatin Kemensos,” ujar Harry. Negara berkewajiban untuk melakukan registrasi anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus dan diupayakan untuk menjangkau keseluruhan data anak.

 

“Kejadian-kejadian yang menimpa anak-anak mulai dari ABH, korban kejahatan seksual, korban perlakuan salah, korban trafficking dan yang lainnya bagaimana hal ini tidak terjadi, tidak meningkat,” ujar Harry. Karena itu, penting melakukan upaya yang sifatnya pencegahan (preventif) sekaligus penguatan keluarga yang rentan, miskin, kurang mampu yang berpotensi anak-anaknya mengalami masalah eksploitasi, kekerasan, perlakuan salah, diskriminasi dan berbagai masalah lainnya. 

 

Harry menyatakan kemiskinan masih menjadi  faktor pendorong (push factor) terjadinya masalah-masalah yang menimpa anak-anak. Ini yang harus dibahas lebih detil dalam rapat koordinasi. “Upaya-upaya mencegah agar Balai terutama tidak hanya berorientasi kuratif rehabilitatif. Respon kasus dengan pendekatan profesional pekerjaan sosial tetap diperlukan. Tetapi, tidak kalah penting adalah upaya penguatan keluarganya (family support),” ujar Harry.

 

Program Kelaurga Harapan(PKH) misalnya, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), bantuan sembako dan bantuan sosial lainnya bertujuan untuk preventif  atau mencegah terjadinya permasalahan sosial. Kalau keluarganya tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, tidak mendapatkan pendampingan, boleh jadi mereka melakukan hal-hal yang tidak diharapkan pada situasi yang sulit (anak anak yang membutuhkan perlindungan khusus). 

 

“Upaya pencegahan secara masif, termasuk penyadaran masyarakat, kampanye pencegahan agar tidak terjadi anak-anak menjadi korban eksploitasi, tindakan kekerasan, penelantaran, perlakuan salah, berhadapan dengan hukum, ini perlu gencar kita lakukan,”tegas Harry. Dengan situasi dan kondisi tersebut, arah kebijakan rehabilitasi sosial akan disesuaikan kembali.

 

“Visi rehabilitasi sosial akan bertranformasi, bahwa rehabilitasi sosial merupakan  fungsi dari pelayanan sosial, bukan sekedar bantuan sosial. Disitulah letak penting  adanya Asistensi Rehabilitasi Sosial Anak,” kata Harry. Orientasinya kepada pelayanan sosial. Didalam pelayanan sosial secara keseluruhan, memang terdapat bantuan sosial yang diarahkan kepada segmen kelompok rentan, miskin dan sangat miskin.

 

Hakekat dari ATENSI Anak yang berwujud pada pelayanan sosial, merentang untuk memenuhi kebutuhan pelayanan sosial dari kalangan yang paling miskin sampai kalangan berpendapatan menengah  keatas. Orientasi ini berlaku pada strategi jaminan sosial, yang mencakup semua orang.  Kalau bicara anak, bukan hanya sebatas anak-anak dari keluarga miskin, walaupun tetap menjadi skala prioritas. Anak-anak pada umumnya membutuhkan asistensi rehabilitasi sosial. Misal, anak-anak korban trafficking, bisa saja dari kalangan menengah keatas.

 

“Kalau bicara rehabilitasi sosial, tidak sebatas menjangkau keluarga yang rentan dan miskin,tetapi masyarakat pada umumnya membutuhkan pelayanan rehabilitasi sosial ketika mengalami disfungsi sosial,” ujar Harry. Karena jangkauannya cukup luas, keterpaduan,  menjangkau lebih luas dan inklusif menjadi sangat penting. Upaya tersebut dilaksanakan secara profesional dan  terstandar, serta  upaya yang intens yang sifatnya pencegahan. Peran dan tanggungjawab keluarga dan masyarakat menjadi penting, karena kalau hanya bertumpu pada pelayanan yang sifatnya lembaga/residensial, antara kemampuan Balai dalam  memberikan pelayanan dengan kebutuhan gabnya sangat tidak memadai.

 

Menurut Harry, diperlukan strategi baru yang mendorong agar Balai-balai di lingkungan Direktorat RSA melakukan reorientasi dengan melakukan berbagai intervensi langsung didalam keluarga. Manakala keluarga itu  dipandang masih mampu melakukan peran dan tanggungjawabnya turut menyelesaikan masalah yang dialami anak. Balai bisa melibatkan LKSA seperti panti asuhan, panti pemda, panti masyarakat, LPA di daerah, perkumpulan-perkumpulan remaja, anak, untuk bisa memberikan kontribusi didalam pelayanan sosial bahkan dalam pencegahan. 

 

“Strategi berbasis keluarga dan komunitas menjadi tumpuan kita kedepan dengan pusat layanannya ada di Balai. Optimalkan keberadaan lembaga tersebut untuk memberikan layanan kepada anak dan remaja secara luas, tidak terkungkung oleh kriteria tertentu. Dan memungkinkan melaksanakan layanan yang bersifat temporer,  bahkan melakukan intervensi-intervensi  dini agar masalah yang ada tidak berkembang dan menjadi kasus yang lebih berat,”kata Harry.

 

Lembaga-lembaga  yang ada termasuk Balai menjadi pusat layanan kepada keluarga dan pemberdayaan komunitas. Fungsi lembaga tidak hanya “memelihara” anak-anak di dalam Balai, tetapi memastikan anak-anak itu bisa kembali mendapatkan pengasuhan dan perlindungan dari orang tua atau keluarga atau kerabatnya.

 

“Fungsi pelayanan sosial dalam bentuk ATENSI ditujukan untuk pemulihan dan pengembangan fungsi sosial. Ini hal yang dapat ditunjukkan ke masyarakat  bagaimana kekhasan dari ATENSI,” ujar Harry.  Atas dasar itu, arah kebijakan teknisnya merujuk pada penghormatan, pemenuhan hak dasar dan perlindungan anak. Selanjutnya penguatan sistem rehabilitasi sosial yang terintegrasi dengan jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan perlindungan sosial anak dan keluarga, perluasan jangkauan rehabilitasi sosial anak berbasis keluarga, komunitas dan residensial. Kemudian, penguatan kapasitas dan kelembagaan Balai Rehabilitasi Sosial dan LKS di bidang perlindungan anak dan keluarga, pencegahan harus diperkuat, peran masyarakat  dan swasta dalam pelayanan sosial anak dan keluarga ditingkatkan.

 

“Dan itu diberikan branding baru,yaitu Asistensi Rehabilitasi Sosial, disingkat ATENSI. Wujudnya berbagai kegiatan, mulai dari pemenuhan kebutuhan hidup layak, pengasuhan anak, dukungan keluarga, terapi fisik, terapi psikososial, terapi mental spiritual,  latihan vokasional, kewirausahaan, bahkan bantuan dimungkinkan serta dukungan aksesibilitas bagi anak-anak yang mengalami disabilitas,” kata Harry. ATENSI merupakan layanan rehabilitasi sosial yang menggunakan pendekatan berbasis keluarga, komunitas, dan/atau residensial.  

 

“Ketika berbicara pendekatan berbasis keluarga, persoalan AMPK itu, untuk diperkuat tanggungjawab keluarga, terutama dalam hal pengasuhan. AMPK itu masih dimungkinkan untuk tidak dibawa ke Balai/panti. Seandainya keluarga inti tidak mampu melakukan pengasuhan, masih ada keluarga kerabat yang dimungkinkan melakukan pengasuhan (pengasuhan berbasis keluarga pengganti),”pungkas Harry.

 

Kegiatan Rapat Koordinasi Regional Program Asistensi Rehabilitasi Sosial Anak BRSAMPK Paramita Mataram ini diikuti oleh 50 peserta dari perwakilan instansi Dinas Sosial, Kepolisian Daerah, Bapas, LPA,  BP3A, Satuan Bhakti  Pekerja Sosial dari Provinsi  Nusa Tenggara Barat, Bali dan Sulawesi Barat. 



(selengkapnya... | Nilai: 0)

Balai Anak 'Paramita' di Mataram Selenggarakan Sehari Bersama Anak Tahun 2020
Dikirim oleh paramita pada Selasa, 03 November 2020 (16 kali dibaca)

 

LOMBOK BARAT (25 Agustus 2020) - Balai Anak Paramita yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI menyelenggarakan kegiatan Sehari Bersama Anak (SBA) dalam rangka Hari Anak Nasional tahun 2020 dan Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-75 dengan tema Anak Terlindungi, Indonesia Maju.

 

Acara yang dihadiri oleh 50 orang tamu undangan yang terdiri dari pejabat Dinas Sosial Provinsi NTB, Dinas Sosial Kota Mataram, Dinas Sosial Kab. Lombok Barat dan beberapa mitra kerja balai seperti Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTB, LombokCare Foundation serta anak-anak yang berasal dari penerima manfaat dalam balai dan berbagai sekolah mulai dari tingkat TK hingga SMA berlangsung meriah dan tetap mengutamakan protokol kesehatan.

 

I Ketut Supena selaku kepala Balai menyampaikan terimakasih kepada Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten serta mitra kerja Balai yang sudah hadir. Pada kesempatan ini Supena  menyampaikan bahwa Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), Balai Anak Paramita tidak lagi bekerja secara sektoral dalam menangani permasalahan anak,  namun dibutuhkan kemitraan dengan lembaga lainnya. Beberapa kegiatan sudah dilaksanakan sebagai tindakan pencegahan munculnya permasalahan anak yaitu kegiatan peksos goes to school."

 

"Balai Anak Paramita bertanggungjawab melakukan pengasuhan,  dukungan keluarga, terapi, respon kasus,  pelatihan keteranpilan dan kewirausahaan. Balai Anak Paramita  berperan sebagai temporary shelter (tempat rehabilitasi sosial sementara) dan lebih mengedepankan layanan berbasis keluarga atau komunitas," imbuhnya.

 

Kegiatan SBA tersebut merupakan puncak dari keseluruhan rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional yang diselenggarakan oleh Balai Anak Paramita. Sebelumnya, Balai Anak Paramita melakukan sosialisasi kepada 24 sekolah yang ada di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas terkait adanya lomba yang diselenggarakan oleh Balai Anak Paramita.

 

Siswa TK diarahkan untuk mengikuti lomba menyanyi, siswa SD diperkenankan untuk mengikuti lomba mewarnai, sedangkan siswa SMP dapat mengikuti lomba membuat dan membaca puisi, serta siswa SMA diarahkan untuk mengikuti lomba mendesain poster.

 

Penilaian yang dilakukan adalah berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditentukan panitia dan dinilai langsung oleh dewan juri yang berkompeten di bidangnya. Mengingat masa Pandemi COVID belum berakhir, sistem penilaian dilakukan secara daring dan peserta lomba mengirimkan hasil karyanya melalui pesan elektronik. Dan pemenang lomba diumumkan melalui telpon oleh panitia untuk diundang langsung dan hadir pada hari ini.

 

Pada kesempatan tersebut juga diselenggarakan rapid test anti gen gratis, hasil kerjasama Balai Anak Paramita dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Sebanyak sedikitnya 54 orang yang berada pada zona kuning (kontak langsung dengan Penerima Manfaat) mengikuti event Rapid Test tersebut sebagai wujud antisipasi Balai Anak Paramita untuk mendeteksi dini dan pencegahan penyebaran Virus Corona.

 

Di akhir sesi, Kepala Balai Anak Paramita mengajak seluruh peserta kegiatan untuk berfoto bersama dengan tetap melaksanakan protocol kesehatan di spot foto terbaru  dari pemanfaatan barang-barang bekas sebagai bagian dari inovasi balai untuk mendukung gerakan zero waste berupa botol kemasan air mineral dan dikolaborasikan dengan nuansa alam.



(selengkapnya... | Nilai: 0)

BRSAMPK 'Paramita' di Mataram Fungsikan Eceng Gondok
Dikirim oleh paramita pada Selasa, 03 November 2020 (13 kali dibaca)
Berita
LOMBOK BARAT (9 April 2020) - Eceng gondok selama ini dianggap sebagai salah satu musuh petani karena eceng gondok diyakini menyerap nutrisi yang dibutuhkan padi.

 

Namun, eceng gondok ditangan anak-anak di Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) "Paramita" di Mataram, UPT Ditjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, bisa menjadi kerajinan sandal yang demikian indah. 

 

SEGO PARAMITA,  Sandal Eceng Gondok Paramita, demikian branding yang mereka buat. 

 

Boks kemasan SEGO PARAMITA pun dibuat dari kertas dan pelepah pisang yang diproses melalui perendaman kertas dan pelepah pisang, pemblenderan dan pencetakan hingga menjadi kertas tipis yang sangat eksotik. 

 

Kemasan pelepah pisang juga sebagai langkah kecil membantu petani dan menjaga bumi dari kepungan sampah plastik.



(selengkapnya... | Nilai: 0)

'Hypnobirthing': Terapi bagi Penerima Pelayanan Putri di BRSAMPK 'Paramita' di M
Dikirim oleh paramita pada Selasa, 03 November 2020 (21 kali dibaca)
Berita

 

 

LOMBOK BARAT (2020) - BRSAMPK "Paramita" Mataram menyelenggarakan salah satu terapi bagi Penerima Manfaat Putri yang dilakukan tenaga-tenaga profesional di bidang medis dan psikologis. Hypnobirthing merupakan metode yang menggunakan self-hypnosis (hipnotis diri sendiri) dan teknik relaksasi untuk membantu calon ibu merasa siap serta mengurangi persepsi akan ketakutan, kecemasan atau tegang, dan rasa sakit saat melahirkan.

Penerima manfaat putri dipandu dan dibimbing untuk mengikuti instruksi yang diberikan oleh psikolog. Hal tersebut dilakukan agar calon ibu dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan janin yang dikandungnya.



(selengkapnya... | Nilai: 0)

ATENSI: Wakil Gubernur NTB Tertarik dengan Inovasi Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomis
Dikirim oleh paramita pada Selasa, 30 Juni 2020 (80 kali dibaca)
Berita
Lombok Barat (30 Juni 2020) - Balai Anak Paramita di Mataram menerima kunjungan dari Wakil Gubernur NTB, Ibu Sitti Rohmi Djalilah didampingi Asisten 1 Setda Provinsi NTB, Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB beserta jajarannya, dan Kepala (DP3AP2KB) Provinsi NTB beserta jajarannya.
 
Kunjungan dilakukan dalam rangka mengetahui Asistensi Rehabilitasi Sosial yang dilakukan oleh Balai Anak Paramita, khususnya yang berfokus pada bidang pengelolaan limbah sampah dan peningkatan kemandirian penerima manfaat. 
 
Kepala Balai Anak Paramita, I Ketut Supena mengatakan, "Tujuan terapi penghidupan ini bukan merupakan kegiatan untuk mengeksploitasi anak, namun lebih kepada meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri anak sebagai modal kehidupan anak lebih lanjut pasca menjalani rehabilitasi dalam balai."
 
Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai Anak Paramita menyampaikan inovasi-inovasi yang dapat diakses masyarakat, seperti: Pinter Ya Anak di Parama Coffee (Pusat Informasi Terpadu Layanan Anak di Balai Paramita), Terpostkan Anak Kita (Terapi Psikososial Spiritual Korban Anak Kehamilan Tidak Dikehendaki)
 
Selain itu, Kepala Balai Anak Paramita Mataram juga menunjukkan hasil terapi penghidupan melalui program: SEGO Paramita (Sandal Eceng Gondok karya Penerima Manfaat Balai Anak Paramita), Anda Baper dan Bete (Anak Muda Bawa Perubahan dengan Bee Entrepreneurship) Lo Apakan Mira (Kelola Sampah Perkantoran Paramita)
 
Setelah memberikan semangat kepada penerima manfaat, rombongan melanjutkan kunjungannya dengan meninjau lingkungan sekitar balai dan melihat usaha ekonomi produktif cuci mobil "Paramita Snow Wash", instalasi keterampilan, dan salah satu pojok asrama dimana dipakai sebagai salah satu tempat pengelolaan sampah di Paramita.
 
 


(selengkapnya... | 2598 byte lagi | ATENSI | Nilai: 5)

ATENSI: Serah Terima 4 Bayi Adopsi Balai Anak Paramita Mataram kepada COTA
Dikirim oleh paramita pada Kamis, 25 Juni 2020 (90 kali dibaca)
Berita

Lombok Barat (25 Juni 2020) – Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) “Paramita” di Mataram telah melakukan serah terima bayi adopsi kepada Calon Orang Tua Angkat dan Calon Orang Tua Asuh. Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Balai Anak Anak Paramita, Pejabat Struktural Balai Anak Paramita, staf seksi AAS Balai Anak Paramita, dan Calon Orang Tua Angkat dan Calon Orang Tua Asuh. Selain itu, kegiatan dimaksud disaksikan juga oleh Pihak Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat yang diwakili oleh Kepala Seksi Anak dan Dinas Sosial Kabupaten Lombok Barat yang diwakili oleh Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial.



Kegiatan dimulai pada pukul 10.00 WITA dengan sambutan yang diberikan oleh Kepala Balai Anak Paramita di Mataram. I Ketut Supena mengatakan “Pastikan tumbuh kembang anak berlangsung dengan baik, tetap jalin komunikasi dengan Balai Anak Paramita.

Dalam sambutannya juga Supena mengatakan “Saat ini Bapak dan Ibu masih berada dalam tahapan uji coba pengasuhan bayi selama 6 (enam) bulan dan akan dimonitoring oleh Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Kabupaten/Kota untuk dipantau dan dibuatkan laporan tumbuh kembang anaknya. Apabila dinyatakan layak maka akan dinyatakan dalam laporan sosial dan surat rekomendasi untuk diajukan kepada Tim PIPA (Tim Pertimbangan Perizinan Pengangkatan Anak) untuk diberikan surat rekomendasi yang dijadikan sebagai syarat untuk menjalani sidang di Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama guna penetapan status anak angkat bayi yang diadopsi tersebut.”

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Kepala Bidang Rehabilitasi. Ibu Baiq Zaitun menyampaikan bahwa Dinas Sosial Kabupaten Lombok sangat siap bersiap bersinergi dengan Balai Anak Paramita untuk mewujudkan Balai sebagai Pusat Informasi dan Edukasi Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) bagi warga Nusa Tenggara Barat. Beliau menyampaikan rasa bangganya karena di Kabupaten Lombok Barat terdapat Balai yang mengakomodir hak-hak dan perlindungan anak.

Acara selanjutnya adalah sesi inti penyerahterimaan bayi kepada masing-masing Calon Orang Tua Angkat dan Calon Orang Tua Asuh yang diberikan langsung oleh Kepala Balai. Kepala Balai mengatakan, “mohon bantuan untuk mengasuh dan merawat anak ini ya Bapak dan Ibu, saya yakin di dalam asuhan keluarga Bapak dan Ibu sekalian, dapat menjadikan tumbuh kembang anak-anak ini menjadi maksimal dan saya yakin tentunya anak-anak ini akan menjadi anak-anak yang berguna bagi negara dan agama.

Di akhir sesi kegiatan serah terima bayi, Kepala Balai menyampaikan ucapan terima kasihnya atas niat tulus COTA melakukan adopsi dan beliau berharap agar bayi-bayi tersebut menjadi warna baru dalam keluarga masing-masing COTA.



(selengkapnya... | 3614 byte lagi | ATENSI | Nilai: 5)

ZI WBK/WBBM: ZONA INTEGRITAS AREA VI - PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK
Dikirim oleh paramita pada Kamis, 25 Juni 2020 (111 kali dibaca)
Zona Integritas



(selengkapnya... | 2321 byte lagi | ZI WBK/WBBM | Nilai: 5)

ZI WBK/WBBM: ZONA INTEGRITAS AREA V - PENGUATAN PENGAWASAN
Dikirim oleh paramita pada Kamis, 25 Juni 2020 (100 kali dibaca)
Zona Integritas



(selengkapnya... | 953 byte lagi | ZI WBK/WBBM | Nilai: 0)

ZI WBK/WBBM: ZONA INTEGRITAS AREA IV - PENGUATAN AKUNTABILITAS
Dikirim oleh paramita pada Kamis, 25 Juni 2020 (62 kali dibaca)
Zona Integritas



(selengkapnya... | 1545 byte lagi | ZI WBK/WBBM | Nilai: 5)

ZI WBK/WBBM: ZONA INTEGRITAS AREA III - PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM
Dikirim oleh paramita pada Kamis, 25 Juni 2020 (82 kali dibaca)
Zona Integritas



(selengkapnya... | 4231 byte lagi | ZI WBK/WBBM | Nilai: 0)

Hit

Kami sudah menampilkan
891284
halaman sejak October 2009

Mars, Yel-Yel, Office Tour dalam Rangka ZI WBK/WBBM



Zona Integritas






Pencarian



Artikel Sebelumnya
Kamis, Juni 25
· ZONA INTEGRITAS AREA II - PENATAAN TATA LAKSANA
· ZONA INTEGRITAS AREA I - MANAJEMEN PERUBAHAN

BRSAMPK PARAMITA MATARAM
Kementerian Sosial Republik Indonesia