Profil
· Profil Balai
· Sasaran Pelayanan
· Visi dan Misi
· Tugas Pokok Dan Fungsi
· Pendistribusian Tugas
· Survei Persepsi Korupsi
· Survei Kepuasan Masyarakat
· Standar Pelayanan
· Struktur Organisasi
· Pegawai dan Kode Etik Pegawai
· Maklumat Pelayanan
· Jam Pelayanan dan Budaya Kerja

Menu Utama
· Depan
· Akun Anda
· Arsip Berita
· Kirim Berita
· Kontak
· Search
· Top 10
· Topics

Login
Nama Login

Password

Daftar
Lupa Password.

ATENSI: Terapi Anak Retardasi Mental Lombok Barat
-----------------------------------------------------------------------------------
Dipublikasi pada Minggu, 29 Agustus 2021 by paramita
-----------------------------------------------------------------------------------

Berita

LOMBOK BARAT (28 Agustus 2021) - Kementerian Sosial melalui Balai "Paramita" di Mataram memberikan layanan rehabilitasi sosial bagi Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus berinisial R yang didiagnosa masuk dalam kategori Moderate Mental Retardation (Keterbelakangan Mental tingkat sedang) dan selama ini tidak diberikan berinteraksi dengan lingkungan luar rumahnya.

 

R merupakan seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang mendapatkan Layanan ATENSI residensial. Ketika dirujuk ke balai pada bulan Juni 2021.

 

Kondisi R cukup memprihatinkan dimana anak cenderung menghindar dan menolak untuk didekati oleh orang yang baru ditemui serta tidak dapat berkomunikasi. Hal ini disebabkan kemampuan intelektual (IQ) R yang termasuk dalam kategori moderate mental retardation. R juga kurang mendapatkan stimulus karena selalu dikurung di dalam rumah dan tidak diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain.

 

Tim rehabilitasi sosial yang terdiri dari Pekerja Sosial, Psikolog, Perawat dan pengasuh fokus berusaha meningkatkan kemandirian R yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus, motorik kasar dan motorik mulut; meningkatkan activity daily skill (toilet training, makan/minum, berpakaian, mandi, sikat gigi); meningkatkan kemampuan interaksi sosial, respon sosial, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan sosial; serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

 

Intervensi yang diberikan kepada R menggunakan Behavior Modification Therapy dengan memadukan berbagai teknik diantaranya reinforcement, extinction, shaping dan chaining. Dengan tetap diberikan stimulus melalui behavior modification therapy secara konsisten maka hal ini akan menjadi dampak yang positif terhadap perubahan diri R dan meningkatkan kemandirian R.

 

Perkembangan rehabilitasi sosial yang telah dicapai R diantaranya meningkatnya kemampuan motoriknya  seperti memegang gelas, memegang makanan dan bertepuk tangan, meningkatnya kemampuan toilet training (khususnya dalam buang air kecil), mandi, makan dan minum, meningkatnya kemampuan interaksi sosial, beradaptasi dan respon sosial dimana R sudah mau mendekati orang lain saat dipanggil atau untuk mendapatkan hal yang diinginkannya.

 

Selain itu R mampu merespon permintaan orang lain, menyalami orang lain, mau mencoba berbaur dengan orang lain di lingkungan sosialnya.

 

Dalam hal kemampuan berbicara saat ini R sudah mulai mau menirukan dan mengucapkan beberapa kata, contohnya ketika R diminta mengatakan kata satu maka R akan mengucapkan “tu”, pengucapan kata tiga R akan mengucapkan “ga”.

 

Penerapan behavior modification therapy juga diterapkan dalam area permainan. Hal ini dilakukan ketika R diajak untuk bermain dengan anak lain di balai.

 

Tujuan dari penerapan behavior modification dalam area permainan adalah untuk meningkatkan interaksi sosial, respon sosialnya dan kemampuannya dalam beradaptasi dengan orang di sekelilingnya.

 

Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial, R diberikan terapi rekreasional, dimana anak sering dibawa keluar kamar dan berinteraksi dengan alam. Tanaman-tanaman dan pepohonan dapat memberikan efek rileks dan menenangkan bagi anak. Hal tersebut diberikan lantaran selama hidupnya, R sejak bayi hingga berusia 8 tahun selalu berada di dalam kamar dan tidak pernah berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar tempat tinggal oleh ayah kandungnya. 

 

"Dengan sentuhan para profesional Balai Paramita seperti pekerja sosial, psikolog, perawat dan pengasuh dapat mengoptimalkan kemandirian anak. Hal tersebut terbukti, 2 bulan anak berada di balai, saat ini sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Terapi-terapi yang diberikan tentunya memperhatikan banyak aspek, salah satunya observasi tingkat burn out anak dalam menjalankan aktivitas rutin dalam balai." tutur Ketut Supena, Kepala Balai "Paramita" Mataram.

 

Penulis: Den Ardani AS.





 
Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Berita
· Berita oleh paramita


Berita terpopuler tentang Berita:
Serah Terima 4 Bayi Adopsi Balai Anak Paramita Mataram kepada COTA


Nilai Berita
Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


Topics Terkait

Berita

BRSAMPK PARAMITA MATARAM
Kementerian Sosial Republik Indonesia